Roti Panggang.pngSuasana pagi yang sejuk karena masih tersisa rintik hujan yang yang sejak semalam mengguyur membuat saya semakin nyaman dan rileks. Dinginnya udara membuat saya tergerak untuk memulai membuat sebuah tulisan dan membuka laptop. Teringat pesan pak Hari, guru yang siap membantu mewujudkan impian saya . Beliau membuat kesepakatan kalau saya harus membuat minimal 2 tulisan perpekan di blog  dan mendapatkan minimal 10 komentar. Huh.. ini sangat menantang saya dan untuk pertama kalinya mendapatkan tugas dari seorang guru yang notabene adalah guru SD yang mengajar di lembaga yang saya pimpin.

Ketika otak saya mulai berputar memikirkan apa yang akan mulai saya tulis, sepertinya saya butuh sesuatu untuk menghanyatkan suasana.

“Bi… sepertinya enak deh kalau ditemani kopi “ ujarku saat bibi melintas di samping saya.

Bibi adalah pembantu rumah tangga yang sangat special buat saya. Figurnya yang keibuan dan sangat tulus membuat kami sekeluarga sayang padanya.

“Kopi cinta kan .. “ beliau menegaskan.

“Siip bi..” jawabku sambal mengancungkan jempol padanya dan memberikan seulas senyum tipis tanda sepakat.

Tak lama kemudian bibi pun datang dengan nampannya,

“Maaf lama.. bibi buatkan roti panggang juga, kebetulan masih ada dua lembar roti sisa kemarin” ujar bibi sambil meletakkan nampanya dimeja samping laptopku.

“Makasih ya bi..” jawabku singkat karena tidak ingin konsentrasiku buyar.

Aroma roti panggang buatan bibi  yang ada didekat saya mulai tercium dan membuat produksi asam lambung saya semakin aktif berkerja, karena sejak memulai berkonsentrasi biasanya asam lambung saya memang segera terproduksi minta diberi asupan. Segera saja kutangkap roti panggang bibi yang masih hangat dan memasukkan dalam mulutku.

“Bismillah ..hmmm yummi..” sahutku lirih.. sambil mengunyah gigitan pertama roti panggang tersebut.

Tekstur roti yang lembut dan gurihnya margarin panggang bertabur gula membuatku ingin betul-betuk menikmati setiap roti yang saya kunyah. Rasanya tidak asing dan sangat familiar. Pikiranku pun ikut melayang, kapan terakhir kali saya merasakan hal seperti ini. Suasana sejuk pagi hari dan kicauan burung pipit yang memang banyak disekitar rumah semakin sempurna dengan roti pangang ini.

Teringat kejadian 42 tahun silam saat itu usia saya baru sekitar 5 tahun, ibu saya selalu menyiapkan roti yang dioles margarine dan ditabur gula pasir dan teh manis panas sebagai kudapan sore hari. Ibu memang senang memberikan hadiah kecil ketika kami telah melakukan sebuah aktivitas positif. Diantaranya tidur siang, mandi dan berpakaian rapi, mengerjakan sholat, selesai mengaji ataupun bantu pekerjaan seperti siram bunga. Apa yang ibu saya lakukan memang sederhana tapi mampu membuat saya sangat bahagia.

Momentum kudapan sore hari menjadi hal yang sangat saya natikan, bisa menikmati apa yang ibu sajikan selalu kami lalui bersama sambil tertawa dan bercerita kecil. Ini ritual keluarga  yang masih sangat melekat dalam ingatan saya.

Tak harus berangkat ke mall atau ketempat rekreasi yang mahal. Kebersamaan bersama keluarga bisa membuat hari menjadi lebih indah.

“Koraaan… “ terikan keras yang khas dari langganan loper koran saya seketika memutuskan lamunan saya.

Ia Turun dari sepeda yang dikayuhnya dan menyerahkan koran kepada saya.

“Republika bu.. “ ..

“Iya .. mas, makasih” segera kuambil korannya.

“Ini bill bulan ini bu.” Sambil menyerahkan kertas kecil berisi bill tagihan berlangganan, ber tulis Rp 90.000,00.

Segera saya bergerak ke dalam kamar untuk mengambil dompet dan mengeluarkan uang Rp.100.000,00. Melihat uang lembaran merah seratus ribuan, loper koran berkulit hitam itu pun segera merogoh kantongnnya untuk mencari .

“Ngak usah mas “ ujarku cepat.

Sontak iapun menghadiahkan senyum tulus dan mengucapkan

“Makasih ya bu, semoga berkah.. “

“Waiyyakum.. “ saya menjawab ambil mengamati loper koran mengayuh sepedanya meninggalkan saya.

Saya menarik napas yang panjang. Masyaallah hanya kegiatan kecil yang dilakukan tulus dan ikhlas tanpa mengharapkan pamrih, kita dapat menciptakan kebahagian yang efeknya bisa langsung kita dapatkan berupa perasaan lega sesaat setelah melakukannya ataupun menikmati kebahagian itu lama setelah kita alami, seperti koran dan roti panggang saya.

“Quote”

Bahagia itu sederhana…

14 thoughts on “Roti Panggang

  1. Bu Nisa tulisannya bagus dan enak dibaca… ada baiknya sebelum upload biasakan rajin check and recheck utk memastikan apakah ada tulisan yg salah atau kata berulang yg dapat mengganggu pembaca saat menikmati tulisan itu…
    Check and recheck dpt digunakan juga sebagai media utk muhasabah diri
    Insya Allah semakin baik dan semakin memberikan manfaat dan inspirasi bagi para pembaca
    Sy selalu siap mendampingi

    Liked by 1 person

  2. Awal yang baik…..tulisan yang ringan seringan suasana pagi di hari minggu semangat terus….setuju Pak Noval… kayaknya udah ada yang siap jadi editor nya tuh….mirip mirip iklan blue band yang sudah mengantarkan berbagai generasi….ke generasi..

    Liked by 1 person

      1. Yes i am…. Ditunggu tulisan lain nya yaa.. Ceriata di kost an dulu juga boleh…. Judul nua… Bunuh.. Bunuh… Bunuh.. Padahal suruh dimatiin tv nya… Kayaknya bisa seru itu…

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s