Pertama kali berada di kota Rabat , saya memilih berjalan kaki untuk berkeliling ma’rifatul medan. Rabat menjadi pusat pemerintahan negara Maroko yang sebelumnya berada di kota Fes. Tentu dengan berbekal map atau Google map seperti halnya “Dora The Explorer”

Walaupun matahari bersinar terang namun Udara dingin yang berhembus membuat saya harus merapatkan pakaian dan memeluk badan sambil berjalan. Kota rabat memang terkenal cukup sejuk walaupun pada musim Summer seperti ini. Itu sebabnya banyak mahasiswa Maroko asal Indonesia sengaja mengambil musim libur mereka di kota Rabat.

Saya hari ini berjanji akan bertemu dengan salah satu mahasiswa Indonesia yang ada disini. Pada sebuah cafe yang terletak di pusat kota Rabat tidak jauh dari tempat Lembaga saya belajar bahasa Arab. Terlihat jelas kebiasaan orang Maroko yang dikenal dengan Magribi, untuk duduk di cave sambil menikmati kopi atau teh kas Maroko yaitu ” The a’ la menthe” teh dengan campuran daun mint yang mereka sebut na’na. Buat saya aroma mintnya jauh lebih kuat dari rasa tehnya sendiri. sehingga memeberi rasa segar sesaat setelah tehnya diteguk.

Kota Rabat menjadi pilihan saya mendalami bahasa Arab karena sangat kondusif. Masyarakat Maroko yang disebut Magribi menggunakan 3 bahasa yaitu bahasa Arab , bahasa Perancis dan bahasa Berber. Semua papan informasi umumnya bertuliskan bahas Arab dan bahas Perancis. Ini mirip dengan kota pare di Indonesia, banyak digunakan sebagai tempat belajar Intensive bahasa Inggris atau kampung Inggris.

Kebiasaan masyarakat Magribi adalah duduk di cafe sambil ngobrol kita menyebutnya nongkrong. Nongkrong di cafe sebenarnya bukan kebiasaan asli orang Maroko, ini adalah kebiasaan orang Perancis yang teradaptasi pada masyarakat Maroko sebagai negara jajahannya.

Saya selalu mencari makanan khas kota tempat saya berkunjung. Termasuk hari ini saya memesan Tajin Dajaj atau chiken Tanjin. Dihidangkan dengan sekeranjang roti khubs, salad buah prunes sebagai pendamping tajin. Tajin adalah tembikar khas Maroko dengan untung yang lancip seperti kerucut yang digunakan untuk memasak semua jenis makanan, yang dicampurkan seperti ayam, daging bersama sayuran, kacang dan buah tin, dipanaskan diatas api yang cukup lama, sehingga empuk dan bumbu meresap. Dan dihidangkan panas sesaat diangkat dari api. Untuk saya ini makanan yang cukup bersahabat dengan lidah kita orang Indonesia.

Apapun jenis makan yang dihidangkan maka menu utamanya adalah Roti khubs yang aromanya sangat wangi ketika panas. Kulitnya terasa keras, namun empuk pada bahagian tengah. Roti khubs menjadi makan pokok orang Magribi, khubs ini sangat awet bisa disimpan hingga lebih dari satu minggu. Dan Akan empuk lagi saat dihangatkan pada microwafe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s