Muslim Quarter Xian..

Hari itu saya betul tersenyum lebar, bagaimana tidak, setelah beberapa hari di negeri China saya menahan diri untuk mencoba makanan disini. Tak berani memasuki restoran jika tidak ada tanda Halal, dengan kondisi tersebut saya Hanya makan jagung kukus untuk mengganjal perut sebelum dapatkan halal food, betul rasanya seperti berada dijaman purba .

Namun setelah berada di Xian, kemudian mengunjungi suatu kawasan yang disebut Muslim Quarter, sepertinya semua ternak dalam perut Saya yang tadi sudah lemas.. tiba-tiba demo minta diberi haknya,Dan bersyukurnya di kawasan ini adalah kawasan muslim terbesar yang berada di Xian China.

Rasanya haru biru saat melihat betapa mereka kaum dengan bermata sipit dan berkulit putih ini nampak menggunakan penutup kepala, mereka menggunakan kopiah baik Pria maupun wanita, menandakan mereka muslim. Meraka menunjukkan identitasnya denga jelas, Di Muslim Wuarter ini semua makanan yang dijual adalah Halal food, Babi maupun alkohol adalah barang yang tidak boleh ada di kawasan ini.

Saya dengan lantang menyapa mereka ” Assalamu’alaikum ” setelah pertama kali memasuki kawasan ini, hE hE walaupun beberapa orang tersenyum tipis melihat saya. Saya pun tak tergganggu dengan pikiran mereka, semua orang yang ada yang saya temuan saya sapa dengan Assalamu’alaikum…dengan semangat, di tengah riuh orang yang berlalu-lalang ingin berbelanja dan masyarakat muslim yang sibuk dengan barang dagangannya.

Saya menyebutnya “Surga Kuliner dan belanja Muslim ” karena Tak perlu khawatir dengan kehalalan semua makanan yang ada di kawasan ini terjamin.

Walaupun semua tulisan yang ada disini didominasi bahasa Mandarin yang oleh memori saya selalu memberi pesan tak Halal. Belum lagi arsitektur kawasan ini memang masih kental dengan budaya China, tapi sesekali jika kita perhatikan logo halal Dengan Menggunakan huruf hijaiyah nampak di antara dinding dan tulisan yang ada.

Sempat hati saya membuat penolakan pada negeri tirai bambu ini. Hingga saya berada di Xian, dengan Muslim Quaternya, Great Wall Xian yang megah bahkan pada kisah Terra Kotta yang sangat luar biasa, membuat saya berfikir kenapa ada pepatah Arab yang mengungkapkan “utlubul Ilmi walaukana BI shin” tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China.

Ternyata semua hamparan muka bumi ini Allah ciptakan tidak sia-sia, Allah SWT ingin menjadikan mahlukNya yang disebut Manusia menjadi Kholifah di Muka bumi Nya. Bacalah ..bacalah

Sebagai wujud Wala Wa Bara saya pun membeli beberapa produk makanan Xian, jika Ngak ingat dengan batasan bagasi pengen membelinya semua, ingin rasanya saya tunjukkan kepada semua masyarakat Indonesia muslim, bahwa disini syiar cahaya islam pernah masuk. Dan mereka mempertahankan apa yang telah Allah Hidayahkan.

Barakllahu Fikum ..😍

Mengejar Tiga Belas Makam Dinasti Ming (Ming Tombs)

Tour planning kami pagi ini adalah mengunjungi salah satu destinasi paling banyak dikunjungi yaitu Ming Tombs yang terletak 50 km dari kota Beijing dan terletak dikaki Gunung Tianshou, yang merupakan kawasan makam para kaisar Dinasti Ming (1368 -1644). Oleh kaisar pertama, Zhu Di pada tahun 1409.

Rasa penasaran untuk melihat langsung salah satu kekayaan tradisional dan budaya Tiongkok, menghargai sejarah dan arsitektur yang megah, saya dan Fitrah anak saya memutuskan memilih Ming Tombs sebagai destinasi terakhir kami sebelum meninggalkan Beijing.

Titik awal diestimasi di Ming Tombs adalah Secred Way yang kami tempuh melalui jalur Subway Beijing west railway line 9, menuju stasiun Bus Deshengmen. Kami pun memilih Bus No 345 ekspres walaupun harus berganti bus lagi ke bus No 314 setelah stasiun Chang Ping Dong Guan.

Namun setiba kami di stasiun Chang Ping Dong Guan, kami tidak berhasi menemukan stand bus 314. Beberapa kali bertanya pada orang yang kelihatannya menurut kami mungkin agak mengerti, tetap akhirnya nihil. Kami pun memutuskan menggunakan Taxi menuju sacred way.

Alhamdulillah.. kali ini kami dapat Taxi yang benar, mau menggunakan argo dengan hanya menunjukkan tujuan kami pada ponsel yang diperlihatkan Fitrah. Hanya sekitar 15 menit dengan ongkos Taxi ¥ 30. Kami pun tiba.

Jarak antara makam Sacred way, makam Changling, Makam Zhaoling dan Makam Dingling terletak dengan jarak yang cukup jauh antara 500 M – 8 kilo meter.

Sejak kami tiba sudah beberapa orang pemilik Taxi gelap menawarkan untuk mengantar kami ke tempat malam lainnya, namun kami sudah berbulat tekad tak tergoda walaupun kami harus berjalan menuju stasiun bus. Ini pun setelah mengkonfirmasi kepada petugas turism information Office, bahwa jauh lebih baik menggunakan bus dari pada Taxi gelap.

Selayaknya sebuah makam-makam raja yang kami temukan adalah kesan sejuk, sunyi, tenang dan megah. Karena makam ini dirancang menggunakan konsep menyatukan harmoni dan kesatuan alam?yang mencerminkan “Kesatuan langit dan manusia”.

Namun buat kami ini adalah perjalanan dzikrul maut, untuk mengingatkan bahwa di dunia ini hanya sementara, dan kita diciptakan hanya untuk Beribadah KepadaNya dan kelak kita akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang telah kita lakukan di muka bumi ini.

Pengejaran kami ke Ming Tomb ini kami lakukan dengan berbagai armada yang ada di Beijing, mulai Subway, Bus, Taxi dan terakhir kami berangkat ke Xian dengan Bullet train yang memliki kecepatan 380 km/jam.

Jazakumullah RIS Tour&Travel. Perjalanan ini menjadi salah satu ZikruLlah dalam melihat bumi Allah yang lain.

The Great Wall, Terik Namun Sejuk …

Akhir sepetember 2019 ini, saya melakukan perjalanan ke Bejing hanya berdua dengan putra saya, Fitrah. Destinasi pertama kami adalah The Great Wall yang merupakan salah satu keajaiban terbesar dunia dan terdaftar sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada 1987.

Awalnya kami memang bermaksud akan menggunakan jasa one Day Tour yang ditawarkan pada kami saat mengunjungi tourism information Office yang terletak persis depan hotel tempat kami menginap. Dengan pertimbangan sempitnya waktu yang kami punya sehingga kami memutuskan ikut paket Tour.

Qadarullah terjadi Miss komunikasi antara Tour Guide, Staff front Office hotel, terkait waktu penjemputan, yang menyebabkan kami ditinggalkan oleh rombongan. Perlu waktu 2 jam untuk menyelesaikan masalah kami. Dan tentu semakin membuat kami kesiangan untuk bergerak. Dan ini sangat menguras energi kami.

Di tengah rasa kesal dan kecewa dengan pelayanan hotel yang kami anggap punya peran paling besar pada masalah kami. Saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke great Wall dengan mandiri saja. Meskipun pihak Travel menawarkan private Tour dengan harga 3 kali lipat … oooh maaf..ini solusi yang tidak adil buat kami, seperti konspirasi besar terjadi disini #baper.com

Bukan hal yang mudah, melakukan traveling di kota Beijing ini. Minimnya kemampuan komunikasi masyarakat dengan bahasa Internatinal (Inggris), dan tabiat dari masyarakat yang rasanya sangat cerdik dan cenderung melakukan penipuan, tidak disiplin, sulitnya informasi bagi turis, membuat Fitrah anak saya kadang berguman, “Lama tinggal disini bisa-bisa membuat kita juga menjadi ikutan culas” , ini iya katakan ketika dengan seenaknya seseorang menyerobot Dan tidak mau Antri. “Sabar.., Innallaha maa shobirin… ” mengingatkannya.

Kami pun memilih pintu Badaling menjadi pintu masuk gerbang menuju tembok besar yang paling juga paling ramai dikunjungi. Alasan kami Insyaallah transportasinya juga akan lebih mudah. Perlu waktu 3 jam mencapainya + 1 jam waktu kesasar.

Butuh langkah yang banyak karena sangat jarang menemukan eskalator maupun elevator untuk menghubungkan level setiap lantai, sehingga Mungkin kaki saya bisa jauh lebih besar dibandingkan tembok raksasa Cina ini. 😅

Namun setelah melihat langsung the GREAT Wall Beijing … aahhh ada rasa kagum kepada mereka, betul UNESCO menjadikannya sebagai salah satu keajaiban dunia, karena tak habis saya berfikir, pada zaman dulu tahun 220 SM, dengan melibatkan 300.000 tenaga kerja paksa, dengan waktu pengerjaan lebih dari 20’tahun, tembok raksasa dengan panjang 21.196 km yang membentang dari Jiyaguan di sebelah barat ke Gunung Hushan di Liaoning di sebelah timur. Sungguh seperti layaknya Naga Raksasa yang mengitari gunung.

Kesalnya hati, lelahnya fisik dan laparnya perut .. rasanya hilang setelah berada dan menyaksikan tembok ini. Ibarat TERIK matahari namun teratas SEJUK angin berhembus.

Yuuuk.. tak kapok traveling 😍😁

Terkmakasih RIS Tour & Travel

Ingat jalan-jalan ingat RIS Tour &Travel.

Universitas Al Qarawiyyin, Fes – Maroko

Alhamdulillah pagi di Kota Fes memberikan semangat baru buat saya, kota ini menjadi incaran saya khususnya old madinah. Sengaja saya memilih penginapan yang berda di dalam old madina. Supaya waktu saya tidak banyak terbuang. Setelas selesai sarapan Aziz telah menunggu kami untuk menelusuri sejarah kota fes, beliau adalah tour guide lokal yang akan menemani perjalanann kami di kota Fes.

Kawasan old madina Fes adalah kawasan yang sangat padat dengan banguna tua yang umumnya berbentuk tembok datar dengan jalan yang sangat kecil. beberapa jalan memang hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki. Saya tidak dapat menghitung sudah berapa kali kami berbelok hingga sampai kami pada pasar fes yang menjadi jantung old madina. Kawasan ini terbagi deri beberapa kawasan pengerajian, seperti pengrajin keramik, pengrajin kulit, pengrajin tembaga, pengrajin tenun, sayuran den rempah.

Kota Fes adalah ibukata negara maroko yang kemudian dipindahkan ke Rabat, disana menjadi pusat sejarah dan budaya. Salah satu nya adalah sebuah universitas AlQarawiyyin, Universitas tertua yang ada didunia, didirikan pada tahun 859 dan terus menjadi salah satu pusat spritual dan pendidikan terkemuka yang memberikan pelayanan pendididkkan tingkat tinggi atau universitas hingga saat ini.

Universitas Al Qarawiyyin ini tercatat oleh Guines book of The record sebagai universitas tertua yang ada di dunia, dan 100 tahun kemudian barulah lahir Universitas al Azhar di Mesir lahir dan universitas Oxfor di Inggris tiga abad kemudian .Pendiri dari sekolah ini adalah sorang perempuan yang bernama Fatimah al Fikhri, seorang muslimah yang yang kaya raya dan beliau putri dari sorang saudagar kaya asal Tunisia Muhammd Al Fihri yang memiliki 2 orang putri tinggal di Fes.

Setelah Muhammad Al Fahri meninggal Fatimah dan Maryam adiknya tidak ingin menumpuk hartanya untuk dirinya sendiri, mereka ingin menginvestasikan harta keluraganya pada kegiatan sosial, Fatimah memebangun mesjid Al Qarawiyyin dan Maryam membangun Mesjid Andalusia di Fes.

Fatimah menjadikan mesjid Al Qarawiyin bukan hanya untuk ibadah sholat umat muslim, tetapi menjadikan mesjid sebagai pusat informasi dan interaksi sosial masyarkat. Saat pembangunan mesjid, Fatimah melaksanakan puasa dan berjanji tak akan berhenti hingga pembanguan mesjid selesai.

Fatimah pun mewakafkan perpustakaan pribadinya untuk digunakan sebagai sumber belajar. Hingga saat ini Al Qarawiyyin masih menyimpan 4.000 buku langka diantaranya buku yang terbit pada abad 9 dan kumpulan hadist yang disusun oleh Imam Malik ” Muwatta Malik”.

Keberkahan dari lembaga ini juga terbukti dengan lahirnya karya-karya besar yang fenomela diantaranya Kartografer {pembuat peta) Muhammed Al-Idrisi. Universitas ini juga telah banyak meluluskan sarjana yang sangat berpengaruh sejarah inteletual dan akademik dunia muslim dan yahudi.

Yang menjadi kunjungan saya berikutnya adalah salah satu madrasah yang menjadi kebanggan masyarakat Fes adalah “Madrasah Bou Inania” yang memiliki ukiran kayu yang indah. Didirikan pada tahun 1351 – 56 M Oleh Abu Inan Faris.

Sejukanya Rabat ..

Pertama kali berada di kota Rabat , saya memilih berjalan kaki untuk berkeliling ma’rifatul medan. Rabat menjadi pusat pemerintahan negara Maroko yang sebelumnya berada di kota Fes. Tentu dengan berbekal map atau Google map seperti halnya “Dora The Explorer”

Walaupun matahari bersinar terang namun Udara dingin yang berhembus membuat saya harus merapatkan pakaian dan memeluk badan sambil berjalan. Kota rabat memang terkenal cukup sejuk walaupun pada musim Summer seperti ini. Itu sebabnya banyak mahasiswa Maroko asal Indonesia sengaja mengambil musim libur mereka di kota Rabat.

Saya hari ini berjanji akan bertemu dengan salah satu mahasiswa Indonesia yang ada disini. Pada sebuah cafe yang terletak di pusat kota Rabat tidak jauh dari tempat Lembaga saya belajar bahasa Arab. Terlihat jelas kebiasaan orang Maroko yang dikenal dengan Magribi, untuk duduk di cave sambil menikmati kopi atau teh kas Maroko yaitu ” The a’ la menthe” teh dengan campuran daun mint yang mereka sebut na’na. Buat saya aroma mintnya jauh lebih kuat dari rasa tehnya sendiri. sehingga memeberi rasa segar sesaat setelah tehnya diteguk.

Kota Rabat menjadi pilihan saya mendalami bahasa Arab karena sangat kondusif. Masyarakat Maroko yang disebut Magribi menggunakan 3 bahasa yaitu bahasa Arab , bahasa Perancis dan bahasa Berber. Semua papan informasi umumnya bertuliskan bahas Arab dan bahas Perancis. Ini mirip dengan kota pare di Indonesia, banyak digunakan sebagai tempat belajar Intensive bahasa Inggris atau kampung Inggris.

Kebiasaan masyarakat Magribi adalah duduk di cafe sambil ngobrol kita menyebutnya nongkrong. Nongkrong di cafe sebenarnya bukan kebiasaan asli orang Maroko, ini adalah kebiasaan orang Perancis yang teradaptasi pada masyarakat Maroko sebagai negara jajahannya.

Saya selalu mencari makanan khas kota tempat saya berkunjung. Termasuk hari ini saya memesan Tajin Dajaj atau chiken Tanjin. Dihidangkan dengan sekeranjang roti khubs, salad buah prunes sebagai pendamping tajin. Tajin adalah tembikar khas Maroko dengan untung yang lancip seperti kerucut yang digunakan untuk memasak semua jenis makanan, yang dicampurkan seperti ayam, daging bersama sayuran, kacang dan buah tin, dipanaskan diatas api yang cukup lama, sehingga empuk dan bumbu meresap. Dan dihidangkan panas sesaat diangkat dari api. Untuk saya ini makanan yang cukup bersahabat dengan lidah kita orang Indonesia.

Apapun jenis makan yang dihidangkan maka menu utamanya adalah Roti khubs yang aromanya sangat wangi ketika panas. Kulitnya terasa keras, namun empuk pada bahagian tengah. Roti khubs menjadi makan pokok orang Magribi, khubs ini sangat awet bisa disimpan hingga lebih dari satu minggu. Dan Akan empuk lagi saat dihangatkan pada microwafe.

Rue Sukarno … Marhaban

Ada suka cita ketika tau kalau di kota Rabat terdapat nama jalan Proklamator Bangsa Indonesia yaitu Soekarno. Bukan hal yang mudah bisa menjadikan sebuah nama pada sebuah jalan di Maroko. Apalagi jalan tersebut berada di pusat kota, Rue Sukarno terletak tepat beririsan dengan Rue Muhamad V (raja Yang pernah Meminpin Kota Maroko, yang salah satu keturunanannya adalah Muhamad VI, raja yang saat ini memimpin.

Penasaran dengan nama jalan ini, saya menyempatkan diri untuk mencari lebih dulu avanue Sukarno baru kemudian keliling mengunjungi destinasi di Kota Rabat, Kebetulan sekali kalau tempat saya belajar dekat dengan jalan ini. Hampir setiap sore saya melewati jalan ini.

Beberapa orang Maroko mengenal face orang Indonesia, maka mereka menyapa saya ” Indonesia ” sambil tersenyum hangat menunjuk saya . Saya pun membalas dengan Anggukan kepala ” Naam Ana Indonesia” , mereka akan mengatakan “Marhaban, Barakallahu Wa daulah Islamiah”. Saya hanya mengucapkan “amin, Waiyyakum”.

Respect orang Maroko terlihat sekali kepada kita orang Indonesia. Sambutan hangatnya bahkan doa-doa yang terucapkan untuk kita bangsa Indonesia. Saya kadang merasa sudah mengenal lama bangsa Maroko ini. Saya merasa sangat diterima disini. Sangat jauh berbeda ketika saya melakukan Safar ke Eropa,.

Cafe tempat saya menikmati “syaih wa khalib” atau teh susu sore hari yang menjadi langganan saya, akan menyambut kedatangan saya dengan ” Ahlan Indonesia,,marhaban” serta merta melayani saya dengan cepat. Pemilik cafe kadang mengenalkan saya kepada pelanggan lainnya kalau saya adalah pelajar dari Indonesia.

Tersenyum kecil haru Sambil menikmati teh susu dan khubs saya. Melihat sambutan orang Maroko .. Marhaban ..😍☺️

Ahlan fi Maroko …

Jarak tempuh penerbangan yang cukup panjang dan proses transit di beberapa airpoth yaitu Kuala lumpur dan Airpoth Jedda hingga tiba di airpoth Casablangka di Maroko, memang sangat menguras energi fisik.

Namun keinginan untuk belajar dan dapat segera menelusuri jejak sejarah wilayah wilayah yang pernah menjadi daulah besar Islam, membuat saya sangat evoria dan menepis semua kelelahan perjalanan.

Alhamdulillah rasa Syukur tak terhingga diizinkan oleh Allah SWT untuk dapat melihat belahan bumi Allah yang luas termasuk sisa abad kejayaan Islam yang pernah ada untuk menjadi bahan renungan diri dan telaah sejarah yang menjadi guru kehidupan.

Maroko menjadi salah satu saksi bagaiman perjuangan Musa bin Nushair dan panglimanya Thoriq bin ziad saat menaklukkan semenanjung iberia. Kota Tangier menjadi pintu masuk ke Eropa melalui Andalusia dengan menyebrangi Selat Gabraltar ke Tarifa.

Saya yakin pengalaman menuntut ilmu di negara Maroko ini akan sangat kaya dengan menelusuri sejarah daulah Islamiyah yang pernah ada, amin

Hembusan udara dingin langsung menyapa kami saat pertama kali keluar dari terminal 2 bandara Muhammad 2 Casablangka. Dan keramahan masyarakatnya ketika menyapa kami dengan sangat ramah .. ” Indonesia ? .. Masyaallah , Ahlan fi Maroko ” membuat Satya semakin bersemangat untuk segera menikmati Bumi Maroko.