Kunjungan Taman kanak-kanak  Futaba Youichien (part 2 0f 2 )

IMG_7513lanjutan ..

Kunjungan Taman kanak-kanak  Futaba Youichien (Osaka, 1 maret 2018)

Tujuan pendidikan anak usia dini di Jepang, baik pada  youchen (TK) maupun Hokuen (TPA), menurut Saleha Juliandi Msi, dalam bukunya “Pendidikan anak ala Jepang” tahun 2014, yaitu membangun kekuatan anak untuk hidup dan memiliki landasan hidup yang kuat untuk menapaki langkah selanjutnya. Landasan hidup berupa kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial yang baik, lingkungan yang baik, kemampuan bahasa, serta kemampuan expresi kreatifitas dan seni.

Di Jepang membangun sisitem pendidikannya dengan melibatkan 3 unsur penting pendidikan yaitu sinergi orang tua, sekolah dan masyarakat. Dan ini menjadi salah satu langkah utama dalam membangun pendidikan karakter masyarakatnya. Hal ini juga sangat kental saya lihat pada Taman Kanak-kanak Futaba Takatsuki Osaka . Beberapa hal yang menarik perhatian saya pada kunjungan ini adalah :

 

  1. Peran orang tua

Hal yang tak kalah menarik pada kunjungan kami di Youichen Futaba di Osaka adalah karena kami dapat melihat langsung beberapa aktivitas orang tua yang sedang berkumpul di ruang serbaguna sekolah (lapangan In door yang tersedia panggung kecil untuk bisa Performance). Sekolah Jepang memang menetapkan  peraturan yang kuat bagi orang tua untuk harus aktive dalam beberapa kegiatan yang diselenggarakan sekolah, kegiatan yang melibatkan orang tua diantaranya :

  • Hari Orang tua, yaitu sebuah kegiatan dimana setiap orang tua tampil membawakan sebuah karya seni di depan anak, berupa bernyanyi bersama, menari dan lain-lain. Pada hari itu siswa akan menyaksikan orang tuanya untuk bisa Performance depan anak, hal ini tentu memberikan rasa bangga, rasa hormat kepada orangtua mereka, dan mengikat hati anak pada sekolah karena melihat orang tua dekat dengan dirinya di sekolah.
  • Membersihkan kolam renang bersama, sebuah kegiatan yang dilakukan di sekolah2 Jepang untuk membiasakan melibatkan orang tua dalam sisitem pembelajarannya. Membersihkan kolam renang dilakukan terutama saat selesai pergantian musim memasuki musim panas, kolam renang yang tidak terpakai segera disiapkan kembali. Dan dengan suka cita semua orang tua, siswa dan guru, bergotong royong membersihkan kolam renang yang memang umumnya cukup Luas. Selain untuk memudahkan pekerjaan karena dikerjakan dengan gotong royong, orang tua terlibat dalam proses membersihkan kolam ini sebagai wujud integritas yang ditunjukan oleh orang dewasa(guru dan orangtua) dalam mendidik murid-mueridnya. Membersihkan contoh untuk bertanggung jawab, mencintai kebersihan dan gotong royon.

 

  1. Kegiatan membaca buku

Kegiatan membaca buku menjadi kegemaran bagi masyarakat jepang, dan hal ini juga jelas terlihat pada anak-anak yang  terbiasanya mereka berinteraksi dengan buku. Demikian pula sekolah Youichen Futaba di osaka ini, setiap pojok ruang tersedia rak-Fak berisikan buku yang Mudah di akses anak, selain perpustakaan dan ruang baca yang menjadi tempat yang nyaman bagi murid-murid untuk melihat-lihat dan membaca buku.

Hal yang menurut saya cukup keren adalah ketika Salah Satu  konsekwensi logis yang diberikan  untuk anak ketika mereka melakukan pelanggaran adalah dengan sangsi tidak boleh meminjam buku selama 1 pekan, tidak mendapatkan kesempatan untuk meminjam buku adalah hal yang sangat menyiksa mereka karena kebiasaan membaca buku adalah hal sangat menyenangkan buat mereka, menjadi ajang hiburan, menambah wawasan dan membaca buku memungkinkan mereka untuk bisa membangun imajinsi nya yang jauh tak terbatas

IMG_7472

  1. Latihan menghadapi bencana

Sebuah kesempatan keren pada saat kami mengunjungi sekolah youichen Futaba di Osaka adalah bertepatan dengan hari latihan simulasi bencana alam. Sebuah program rutin yang disiapkan tidak hanya disekolah-sekolah namun di semua tempat publik di Jepang, melakukan program simulasi bencana. Ternyata kondisi alam Jepang yang sering mengalami bencana alam menjadikan pelajaran besar buat masyarakat Jepang untuk terbiasa tidak panik, dan melakukan kegiatan yang berkontribusi positif pada sat terjadi gempa atau bencana alam.

Pelaksaan simulasi evakuasi bencana dilakukan bertujuan agar semua orang terbangun dialam bawa sadarnya sebuah insting menyelamatkan diri/keselamatan, karena hasil survei menunjukkan terjadinya korban jiwa pada saat bencana lebih banyak disebabkan oleh karena panik. Seperti bencana bersarang yang terjadi di Jepang Kobe beberapa tahun silam, 90 % masyarakat yang selamat karena alam bawah sadar mereka menuntun dengan alamiah untuk segera menyelamat diri.

Kegiatan ini diawali dengan di dengarkannya serine tanda bahaya terjadi bencana. Kegiatan ini memang simulasi, guru sebagai fasilitator memainkan simulasi ini dengan sangat apik, terlihat bagaimana setiap guru memiliki peran dan fungsi yang berbeda, ini menandakan Standar Opreasional Prosuder (SOP) yang mereka sudah dijalankan dengan baik, diantaranya :

  1. Manajemen sekolah/Kepala sekolah segera membunyikan sirine tanda bahaya, dan langsung mengarahkan semua warga sekolah untuk segera berlindung dan siap siaga.
  2. Tenaga non kependidikan (Tata usaha, adminstrasi) segera bergegas membuka semua pintu-pintu agar semua masyarakat sekolah tidak mendapatkan hambatan melalui jalur evakuasi dan dapat bergerak ke titik kumpul dengan aman dan lancar.
  3. Satpam, bergegas mengambil alat-alat pemadam kebakaran yang disiapkan, sebagai langkah prepentif jika pada kegiatan ini terdapat api.
  4. Guru kelas memimpin sisiwa kelasnya untuk bergerak menuju titik kumpul dengan tenang namun tetap waspada.
  5. Orang tua yang berada di lingkungan sekolah juga ikut terlibat melakukan proses evekuasi ini, dan bersama siswa dan guru.

Beberapa catatan yang menjadi faktor kunci kegiatan simulasi evakuasi bencana yang dilaksanakan agar proses ini dapat terlaksana sesuai tujuan, yaitu s:

  • Pelaksanaan kegiatan simulasi dikerjakan dengan sungguh2 dengan integritas tinggi dan tidak bercanda, seakan-akan bencana ini benar benar terjadi.
  • Semua masyarakat sekolah terlibat, dan semua kegiatan dilakukan dengan tidak berisik atau membuat kegaduhan tetapi tetap waspada.
  • Kegiatan dilakukan rutin dengan waktu yang tidak ditentukan. Dikerjakan bukan hanya sekali-kali, tapi dikerjakan secara konsisten dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Kesempatan mengunjungi sekolah Futaba youichien benar-benar menjadi kesempatan yang sangat berharga. Karena sya mendapatkan banyak inside dari semua kegiatan yang sya amati selama berada di sana. Pengalaman saya ini pun System tuangkan dalam sebuah tulisan pendek yang semoga saja dapat menjadi inspirasi buat para pembaca terutama para orang tua ataupun guru yang menginginkan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia juga berhasil.

IMG_7514

 

 

 

 

Arigato Ghozaimas…

 

Kunjungan Taman kanak-kanak  Futaba Youichien (part 1 of 2)

IMG_7474Kunjungan Taman kanak-kanak  Futaba Youichien (Osaka, 1 maret 2018)

Masyarakat Jepang Sangat  terkenal dengan karakternya yang disiplin, pekerja keras dan mandiri. Hal ini yang membuat saya terus merasa penasaran bagaimana masyarakat Jepang membangun karakter ini semua. Selain itu, Banyak hal yang saya lihat dinegara ini yang sangat saya sukai, mulai dari alamnya, keIndahan kotanya, kebiasaan masyarakatnya, Teknologi, sampai  Kesenian dan Budayanya.  Hal inilah yang menyebabnkan saya tidak pernah bosan untuk datang  berkunjung dan belajar di negara yang dijuluki negara matahari terbit ini.

Kesempatan perjalanan saya  kali ini adalah mengunjung salah satu Taman Kanak-kanak (Youichien) yang dikelolah oleh suwasta yaitu Takatsuki Futaba Youichien di Osaka, Untuk dapat melihat langsung  aktivitas belajar mengajar di taman kanak-kanak ini.

Kedatangan kami disambut dengan ramah oleh bapak Kepala sekolah dan beberapa guru serta seorang siswa yang memberikan salam selamat pagi dan selamat datang dengan menggunakan  bahasa Indonesia “ Selamat pagi, Selamat datang “ walaupun dengan diksi kata yang berbeda kedengarannya. Tentu hal  ini sangat membuat kami senang karena dengan keluguan anak tersebut menyapa kami dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dan kami pun menyambut dengan tepuk tangan sebagai rasa kagum dan hormat dengan membalas salamnya, “Arigato, Ohayoo ghozaimas”. Kemudian kami pun memulai  kegiatan kunjungan ini dengan melihat aktivitas siswa taman kanak-kanaksetelah mendapatkan penjelasan tata tertib yang harus kami patuhi.

Tujuan pendidikan anak usia dini di Jepang, baik pada  youchen (TK) maupun Hokuen (TPA), menurut Saleha Juliandi Msi, dalam bukunya “Pendidikan anak ala Jepang” tahun 2014, yaitu membangun kekuatan anak untuk hidup dan memiliki landasan hidup yang kuat untuk menapaki langkah selanjutnya. Landasan hidup berupa kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial yang baik, lingkungan yang baik, kemampuan bahasa, serta kemampuan expresi kreatifitas dan seni.

Di Jepang membangun sisitem pendidikannya dengan melibatkan 3 unsur penting pendidikan yaitu sinergi orang tua, sekolah dan masyarakat. Dan ini menjadi salah satu langkah utama dalam membangun pendidikan karakter masyarakatnya. Hal ini juga sangat kental saya lihat pada Taman Kanak-kanak Futaba Takatsuki Osaka . Beberapa hal yang menarik perhatian saya pada kunjungan ini adalah :

 

  1. Design Bangunan Sekolah

Hal pertama yang  menjadi perhatian saya adalah design bangunan TK yang menyerupai lingkaran. Ini mengingatkan saya pada konsep bangunan sekolah Mr. Takaharu Tezuka tentang bentuk TK Ideal yang juga ada di Fuji Jepang. Bentuk bangunan sangat bersahabat dengan anak karena dirancang sesuai dengan tahapan perkembangan anak dan kebutuhan anak. Bentuk bangunan yang terdapat pada Taktsuki Futubu Youchin Osaka yang saya amati diantaranya. :

  • Bagian atap selasar depan menjadi lantai tempat bermain luar anak, umumnya anak-anak senang berlarian diatas atap tersebut dan dengan leluasa pandangan anak dapat melihat kebahagiaan bawah yang hanya berbatasan pagar besi yang sangat aman.
  • Pojok dinding bangunan dimanfaatkan sebagai wahana clambing wall yang berukuran mini. Anak memiliki kesempatan untuk melatih kekuatan gross motornya dan Find motornya.
  • Atap sengaja dibuat agak rendah sehingga mudah dipanjat dan dihubungkan dengan sebuah tangga yang landai dan terhubung dengan perosotan yang menjadi akses exit anak yang memberikan pengalaman berbeda saat masuk dan keluar arena.
  • Tersedia lapangan yang cukup luas sebagai tempat bermain yang mampu menampung semua anak dan memberikan keleluasaan bergerak bebas, bermain dan berlari atau sekedar melakukan permainan kelompok.IMG_7488
  • Bagian atap bangunan utama adalah lapangan luas yang difungsikan ganda, yaitu sebagai lapangan tempat bermain pada saat musim dingin, dan sebagai kolam renang pada saat musim panas. Kolam renang menjadi salah satu standar sarana prasarana yang harus dimiliki oleh sebuah sekolah di Jepang.
  • Terdapat beberapa wahana yang dibuat cukup menantang dan agak sulit bagi diantaranya; tali panjat, bukit-bukit tanah, jembatan kera dan clambing wall agar membangun kemampuan anak untuk saling menolong, kuat dan hati-hati dari pengalaman terjatuh dan terluka.

 

  1. Guru

Beberapa hal yang sangat menarik dapat saya lihat pada guru-guru yang ada pada youichen Futaba ini adalah diantar lain :

  • Fungsi guru sebagai fasilitator kegiatan belajar mengajar sangat jelas terlihat. Mereka umumnya melakukan kontinum belajar yang sangat bervariasi, mulai dari bertanya, pemberian pijakan baik langsung maupun tak langsung, sampai hanya dengan hanya visual Looking on. Ini merupakan prinsip berlajar dengan metode aktive learning dan Student centre.
  • Rasa respeck guru terhadap siswanya tergambar jelas saat guru-guru demikian fokus mendengarkan sang anak bercerita ataupun berbicara padanya dengan memperhatikan eye level, posisi mata siswa dan guru disejajarkan. Dan sikap tubuh yang saling berhadapan.
  • Pakaian seragam yang digunakan sang guru di rancang sangat fungsional, menggunakan bahan kaos yang mudah menyerap keringat, sepatu sport danIMG_7491 celemek dengan kantong Doraemon yang menjadi kantong untuk menyimpan alat-alat kecil yang dibutuhkan oleh guru sepertinya ; Tisyu, gunting kecil, lem kecil dll.,serta melindungi pakaian guru dari cipratan noda atau kotoran.
  • Guru selalu dilengkap dengan kamera/handphon yang tergantung di badannya, untuk memudahkan kedua tangan guru tetap bergerak leluasa dan bisa mengambil gambar/foto pada moment-moment spcial yang dijadikan laporan bagi orang tua.
  • Selain ketrerampilan mengajar maka seorang guru harus punya ketrampilan lain yang menjadi kompetensi dasar seorang guru TK, yaitu mengusai alat musik dan pandai bernyanyi. Disini Guru ditunjuk melakukan dengan contoh yang betul. Sehingga menjadi row model bagi anak dalam pembelajaran termasuk menyanyi dan memainkan musik.

 

  1. Lingkungan yang Edukatif

Likungan menjadi perhatian besar dalam memberikan pendidikan bagi anak di Jepang. Selain guru dan kurikulum lingkungan pun menjadi faktor penting dalam melakukan proses pendidikan di youichen (taman kanak-kanak)Semua sarana prasasarana di sediakan sesuai fungsi dan ukuran anak. Beberapa prasarana yang disediakan sangat fungsional yang mendukung proses pendidikan diantaranya :

  • Setiap anak memiliki sepatu dalam ruang yang hanya dipakai selama berada didalam ruangan. Semua sepatu diletakkan secara rapi dan teratur di tempat sepatu yang telah disediakan. Hal menarik lainnya adalah penggunaan barang-barang bekas yang digunakan sebagai tempat sepatu semakin menunjukkan betapa lingkungan belajar memberikan pembelajaran yang sangat imajinatif.
  • Setiap ruangan akan tersedia wastafel yang berukuran mini, sesuai tinggi rata-rata anak TK. Dan setiap siswa wajib membawa serbet yang akan digunakan setiap masing-masing anak, dan setiap hari serbet ini diganti dengan serbet baru yang dibawa setiap hari.
  • Pemberian identitas pada semua barang milik siswa disesuaikan dengan tahapan petrkembangan anak. Untuk anak usia toodler akan menggunakan identitas berupa gambar buah yang berbeda setiap anak, sehingga anak akan dengan meludah mengenali barang miliknya. Dan untuk anak-anak kelompok B dimana kemampuan keaksaraan nya sudah terbangun, baru diberikan identitas barang miliknya berupa tulisan nama anak tersebut. Selain memudahkan anak, pemberian identitas pada semua barang milik anak membangun rasa tanggung jawab, kemandirian dan selfesteem anak.
  • Semua hasil karya anak akan di gantung di sekitar lingkungan kelas untuk memberikan rasa senang, bangga dan percaya diri anak terhadap produk kerja anak. Sehingga display ruang kelas didominasi oleh pajangan karya anak yang secara berkali akan diganti.
  • Semua sumber reserch diletakkan disekitar anak, sehingga anak dengan mudah mengakses jika sedang membutuhkannya. Pada saat kami berkunjung dan memperkenalkan diri bahwa kami adalah rombongan dari Indonesia, maka dengan segera guru menanyakan pada siswa “ adakah yang tahu dimana letak Indonesia..?” , makan dengan sigap anak-anak bergerak mengambil gambar Peta dan globe mencari letak Indonesia, dan sebahagia lagi mengambil buku katalog negara yang ada didunia dan mencari negara Indonesia. Dan dari situ mereka menceritakan negara Indonesia. Sebahagia lagi mencoba menuliskan di papan White board beberapa ucapan greating kepada kami dalam bahasa Indonesia. Sungguh amazing..

Keseruan mengunjung Taman kanak-kanak belum selesai dihalam ini, silahkan melihat part 2 dari cerita ini.

Lanjut .. 1 of 2

 

Mengembangkan Program Pendidikan Remaja Zaman Now

Tujuan pendidikan diseluruh dunia apapun konteksnya, merujuk kesatu hal yakni menghasilkan peserta didik yang understanding, yaitu anak dapat mengerti semua hal dan dengan pengetahuannya tersebut anak dapat mengambil keputusan terbaik yang membuat ia bahagia dan mulia didunia namun tetap selamat diakhirat.

Untuk mencapai hal tersebut yang paling utama menjadi perhatian kita adalah proses tahapan perkembangan anak. Semua sistem pembelajaran yang disiapkan hendaknya benar-benar telah menjadikan tahapan perkembangan anak sebagai landasannya.

“ Tahapan perkembangan anak adalah proses tumbuh kembang yang dapat diprediksi akan terjadi sebagai hasil dari sebuah riset ilmiah, ini merupakan jendela informasi kepada para pendididk dan orang tua yang sangat berguna dalam melaksanakan kewajiban mendidik dan membina anak.”

Masa remaja atau Fase Amrod adalah fase perkembangan diusia remaja 13 -15 tahun dikenal sebagai fase yang sangat kritis, dimana pada fase ini anak mengalami :

  • Kecenderungan ambivalensi, antara keinginan menyendiri dan keinginan bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi, namun masih membutuhkan bimbingan dan bantuan orang dewasa
  • Mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan
  • Reaksi dan ekspresi emosi masih labil
  • Mulai mengembangkan standar dan harapan terhadap perilaku diri sendiri yang sesuai dengan dunia social

Continue reading “Mengembangkan Program Pendidikan Remaja Zaman Now”